Panjat Tebing Siung

Bekti ( GGM 24.280 ) Kegiatan pemanjatan Tebing Siung dimulai dengan pemberangkatan dari Sekretariat GEGAMA pada tanggal 13 Desember 2008 pada pukul 15.00. Namun, karena adanya hambatan berupa ketidakpastian mengenai tambahan person yang mengikuti kegiatan, maka kami baru bisa berangkat pada pukul 17.50 dengan jumlah person 7 orang. Sebelum pemberangkatan, dilakukan upacara di depan Sekretariat GEGAMA dimana kami beserta anggota GEGAMA lain berdiri melingkar mengelilingi bendera kebesaran kami. Perjalanan menuju Pantai Siung Kabupaten Gunung Kidul dilakukan dengan menggunakan kendaraan bermotor. Malam itu cuacanya sangat cerah sehingga menghapus rasa takut mengenai kondisi tebing yang nantinya akan licin apabila kena air hujan. Perjalanan sekitar 1 jam 5 menit dihentikan untuk istirahat dan makan malam di rumah salah satu peserta yang kebetulan bermukim di Kota Wonosari. Perjalanan kemudian dilanjutkan setelah istirahat selama 1 jam. Dari Kota Wonosari perjalanan dilanjutkan menuju Pantai Siung melewati Desa Karangrejek, dan Desa Mulo melewati jalan aspal yang telah bagus. Semakin ke arah selatan yang semakin menjauhi Kota Wonosari, jalanan aspal semakin sepi, lampu jalan semakin sedikit, apalagi ketika telah sampai di pertigaan Mulo ke kiri, yang ada hanya gelap dan sorotan lampu sepeda motor karena kiri kanan jalan merupakan hutan jati yang jauh sekali dari permukiman. Kurang lebih selama 1 jam perjalanan tim melewati jalanan tanpa cahaya yang hanya dibantu dengan lampu sepeda motor. Kondisi jalan raya yang merupakan jalur alternative ke Siung telah halus beraspal, namun perlu diwaspadai tanjakan, turunan, serta belokan yang ekstrim apalagi apabila perjalanan dilakukan pada malam hari. Sekitar pukul 21.16 kami tiba di lokasi, sehingga dapat disimpulkan bahwa dari Kota Yogyakarta kira-kira memakan waktu sekitar 2 jam lebih 10 menit dengan menggunakan sepeda motor dalam kondisi malam hari untuk menuju lokasi Tebing Siung di Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunung Kidul. Dua hal menguntungkan bagi kami malam itu adalah makan malam gratis di rumah salah satu anggota kami yang merupakan tuan rumah dan ketika masuk ke obyek wisata pantai, kami tidak ditarik biaya retribusi karena kami melewati pos penjagaan pada malam hari sehingga tidak dijaga oleh petugas. Setelah sampai di pantai, kami disambut oleh deburan ombak Pantai Siung dimana kondisi air laut saat itu sedang pasang. Lokasi tebing yang akan kami panjat berada di sekitar Pantai Siung dan berhadapan langsung dengan Samudera Hindia, sehingga dapat dikatakan panjat tebing di Pantai Siung ini mendapatkan bonus gratis berupa rekreasi pantai. Karena kami akan menginap, maka sepeda motor kami titipkan di tempat penitipan sepeda motor. Malam itu Pantai Siung ramai dikunjungi karena malam itu adalah malam minggu, sehingga banyak gerombolan muda-mudi yang melakukan camping di pantai. Kami memutuskan untuk mendirikan camp sekitar 10 meter dari bibir pantai di bawah barisan pohon waru sebagai pelindung jikalau nantinya terjadi hujan. Karena malam semakin gelap, sesegera mungkin kami mendirikan dome berjumlah 2, satu dome besar untuk tidur dan satu dome kecil untuk meletakkan alat-alat. Setelah istirahat sejenak, kami segera masuk ke dome untuk melakukan briefing kegiatan untuk esok hari. Briefing ini meliputi pembacaan skenario kegiatan untuk esok hari yang disesuaikan dengan target kegiatan yang diinginkan. Tujuannya jelas, agar kegiatan pemanjatan dapat lebih terarah dalam rangka pemenuhan target kegiatan yakni refresh materi dasar dan pendalaman materi panjat tebing meliputi leadering dan cleaning jalur. Setelah briefing selesai yakni sekitar pukul 22.30 skenario selanjutnya adalah istirahat. Namun, karena di depan mata kami teradapat pemandangan berupa pantai dengan deburan air yang sangat menggoda, maka kami memutuskan untuk sejenak berjalan-jalan di tepi pantai. Tak ada cahaya sama sekali hanya sedikit kerlap-kerlip lampu nelayan yang sedang melaut sehingga mambuat malam itu terasa sunyi namun membawa kedamaian tersendiri. Beberapa anggota kami ada yang mencoba memasang pancing di tepi pantai berharap ada ikan yang tertarik, namun karena factor keamatiran tentu saja tak satupun mangsa yang didapat. Dan akhirnya pukul 12 malam kami segera beristirahat karena kami sadar kegiatan inti masih menanti di esok hari sehingga kami harus benar-benar menghemat energi. Dari skenario yang ada, kami harus bangun pukul 05.00 dan tepat pukul 05.00 salah satu anggota telah bangun. Langit terlihat masih agak gelap dan pemandangan lain terlihat di depan mata, air laut telah surut sampai beberapa puluh meter sehingga terlihat jauh sekali dari tempat kami mendirikan camp. Tak berapa lama beberapa anggota lain mulai bangun dan segeralah kami bertiga mempersiapkan bahan makanan untuk dimasak. Karena kami berniat untuk memasak sendiri, maka sayur-sayur dan bumbu-bumbu telah dipersiapkan . Pagi itu kami memasak tumis sayur wortel dan kerabatnya ditemani lauk tempe asin. Anggota yang lain mulai bangun dan berjalan menuju bibir pantai untuk menghirup sedikit udara pantai. Sekitar pukul setengah tujuh, 2 anggota kami memutuskan untuk berangkat terlebih dahulu menuju lokasi pemanjatan dengan tujuan mem”booking” tebing serta jalur yang akan digunakan sebagai area pemanjatan. Tujuannya jelas agar tidak didahului pemanjat lain untuk mengambil lokasi yang diinginkan. Karena pada area panjat tebing ini tidak ada semacam perijinan untuk memakai tebing atau jalur manapun. Sehingga pemanjat bebas menentukan area mana yang akan digunakan untuk berkegiatan dengan tetap memegang etika penjat tebing. Dalam hal ini sangat dianjurkan untuk mem”booking” tebing terlebih dahulu ketika akan melakukan kegiatan di Tebing Siung ini agar tidak kedahuluan pemanjat lain apalagi kalau Tebing Siung sedang ramai dikunjungi banyak pemanjat mengingat kepopuleran area Tebing Siung di kancah olahraga panjat tebing. Pukul 07.00 makanan telah siap maka kami yang masih berada di tempat camp segera membereskan camp kami untuk menuju area pemanjatan. Perlu berjalan sekitar 200 meter menyusuri pantai untuk menuju area panjat tebing yakni ke arah barat dari tempat camp kami. Di area panjat ini terlihat dinding-dinding raksasa yang berbatuan karbonat dimana banyak semacam lubang-lubang hasil proses karstifikasi yang sangat ideal digunakan sebagai alat bantu memanjat tebing. Di area panjat tebing, kami bertemu dengan pemanjat lain yang telah mulai beraktifitas di sekitar tebing blok D. Kami menuju tebing yang lokasinya langsung berbatasan dengan laut, disana teman kami telah mempersiapkan peralatan yang diperlukan untuk pemanjatan. Kami sarapan terlebih dahulu untuk mengisi energi untuk memanjat dinding-dinding raksasa nan kokoh yang menanti untuk segera dipanjat. Setelah sarapan, sesuai dengan skenario bahwa pemanjatan dilakukan dengan 2 sistem pemanjatan yakni sport climbing dan artificial climbing, sehingga tim dibagi menjadi dua yang nantinya setelah waktu istirahat siang, kedua tim melakukan rolling untuk bergantian dalam melakukan sistem pemanjatan. Pukul 08.00-09.00 kami melakukan refresh materi mengenai teknik leadering seperti teknik pemanjatan serta cara pemasangan runner meliputi arah carabiner yang ditautkan pada tali dimana harus menyesuaikan dengan arah gerakan/arah jalur yang digunakan. Tak lupa sebelum kami dibagi ke dalam tim, kami melakukan peregangan otot tangan maupun kaki agar nantinya badan tidak sakit seusai pemanjatan karena otot-otot tidak kaku lagi. Kami juga melakukan bouldering sebelum pemanjatan sebagai bekal/latihan agar badan tidak kaku sehingga tidak mengganggu dalam menerapkan teknik pemanjatan. Pukul 09.00 tepat kami masuk ke tim masing-masing. Untuk tim sport sendiri pengaman yang digunakan adalah permanen anchor yakni pengaman tetap yang telah dipasang pada tebing dimana nantinya terdapat hanger untuk memasang pengaman/runner. Untuk kegiatan sport climbing, jalur yang digunakan adalah jalur kuda laut. Disebut jalur Kuda Laut karena bagian top dari jalur ini terdapat batu yang terkikis gelombang dan bentuknya menyerupai kuda laut. Tebing pada blok ini memiliki bagian yang masuk pada klasifikasi overhang dimana sudut kemiringan tebing kurang lebih 80°. Terdapat 9 hanger yang terpasang pada jalur Kuda Laut ini. Pada bagian bawah terdapat batu besar setinggi 1,5 meter yang dapat digunakan sebagai pijakan untuk melakukan start. Berdasarkan hasil pengamatan, untuk jalur ini area untuk belayer tidak terlalu luas dan barada di tempat yang agak tinggi dimana tidak ada setengah meter ke belakang terdapat bagian yang lebih rendah dan agak terjal sehingga perlu hati-hati ketika melakukan belaying. Untuk pemanjatan pertama, runner yang dapat terpasang hanya 3 buah, Pada dinding di sekitar runner ke-3 ini diperlukan sedikit kecermatan dalam melakukan teknik pemanjatan karena meskipun banyak terdapat cacat batuan, namun apabila posisi kaki dan tangan kurang tepat maka akan sedikit terhambat pada area ini. Akhirnya personil selanjutnya yang melanjutkan pemanjatan. Pada pemanjat sesi kedua ini, dapat dipasang runner sebanyak 3 buah, dimana dua buah dipasang pada hanger ke-3 dan ke 4 yang selanjutnya dibantu oleh pembuatan pengaman dengan menggunakan lubang tembus yang ada di atas hanger ke-4. Anggota selanjutnya melakukan pemanjatan ke-tiga dan dapat memasang 1 buah runner lagi dan ketika akan memasang runner selanjutnya, didapati bahwa hanger di atasnya bagian baut telah berkarat sehingga sangat riskan ketika akan dipasang pengaman pada hanger yang bersangkutan sehingga anggota kami meemutuskan untuk turun. Memang salah satu minus dari tebing di kawasan yang berada di dekat pantai adalah rentannya hanger mengalami pengkaratan akibat terkena aktivitas gelombang air laut. Akhirnya pemanjat ketiga turun dan pemanjat ke-dua naik kembali untuk mengecek dan apabila memungkinkan akan dipasang runner selanjutnya. Namun gagal begitu pula untuk pemanjat ke 4 yang tidak berhasil menambah pengaman. Di tengah pemanjatan hujan tak mau diajak berkompromi. Namun, karena tebing memiliki konfigurasi yang agak menggantung, maka jalur pemanjatan untuk sport ini tidak terkena air hujan sehingga kami tidak terganggu licinnya tebing walaupun hujan turun. Disisi lain tim artificial menuju block D, disana kami merefresh kembali sistem pemanjatan artificial yang disini lebih ditekankan pada teknik pembuatan jalur pemanjatan dengan membuat pengaman sendiri. Selesai merefresh materi, dilakukan orientasi medan tebing terlebih dahulu. Orientasi medan ini berfungsi untuk menetapkan bagian-bagian tebing mana yang akan kita lalui dan memperkirakan seberapa banyak pengaman yang kemungkinan bisa dipasang. Pengaman yang kami bawa di sini berbeda dengan sistem sport yang pengamannya hanya tinggal memasang runner, di sini kami membuat pengaman sendiri seperti membawa heksa, stopper, piton, frend, sky hook, sling, prusik, dan beberapa carabinner. Pada pemanjatan artificial ini, ketika posisi pemanjat telah sejauh tinggi badan si pemanjat, pemanjat mulai mencari tempat atau lubang-lubang yang bisa dipasangi pengaman. Pada tebing ini agak sulit untuk mendapatkan lubang atau cacat tebing yang pas/sesuai untuk pengaman yang telah dibawa. Kebanyakan pengaman yang terpasang adalah menggunakan sling dan prusik yang memanfaatkan lubang tembus sebagai pengamannya. Setelah memasang pengaman, pemanjat biasanya memastikan terlebih dahulu pengamannya dengan menghentakkan/menggoyangkan ke kanan-kiri atas dan bawah dengan kuat serta memastikan pengaman itu aman bila terbebani. Pada akhirnya pemanjatan pertama ini hanya berhasil dengan terpasangnya 4 pengaman, sebenarnya akan di pasang pengaman yang ke 5 tapi karena carabinner telah terpakai semua jadi pemanjat memutuskan untuk berhenti di roof pertama. Selanjutnya, dilakukan pembersihkan pengaman yang terpasang dengan menggunakan teknik claimdown, pengaman tersebut dibersihkan dari tebing satu-persatu. Setelah selesai anggota pertama, selanjutnya dilanjutkan oleh anggota lainnya, namun tiba-tiba hujan yang lumayan deras tak mau berkompromi dan akhirnya kami memutuskan untuk menghentikan pemanjatan untuk sementara sambil menunggu hujannya reda karena konfigurasi tebing yang memungkinkan air hujan membasahi tebing yang digunakan untuk memanjat. Seelah hujan reda, kami melanjutkan kembali pemanjatan artificial tapi karena tebing yang digunakan basah tekena air hujan maka kami pindah yang semula menggunakan jalur Putus Cinta kemudian menggunakan Jalur Take Easy. Di tebing ini terpasang empat pengaman yaitu dengan menggunakan 2 piton, 1 sling dan 1 prusik. Pengaman pada tebing ini tidak langsung di bersihkan dengan claimdown tetapi oleh anggota lain di gunakan untuk pemanjatan seperti sport. Karena hari menjelang sore, kami segera melakukan cleaning jalur karena kami harus kembali ke Yogyakarta. Untuk jalur sport diputuskan untuk menggunakan teknik claim down dalam sistem pembersihan jalurnya. Claimdown merupakan teknik cleaning dimana memaksimalkan penggunaan kaki sebagai ”mata” untuk menuruni tebing. Dalam menggunakan teknik claim down perlu koordinasi yang cukup baik antara pemanjat dengan belayer karena miss komunikasi sedikit saja dapat berakibat fatal. Karena apabila posisi pengaman satu dengan yang lain terpaut terlalu jauh, maka ketika satu pengaman dilepas, maka pemanjat harus turun tanpa pengaman menuju pengaman dibawahnya. Belayer pun harus terus memperhatikan pemanjat ketika pemanjat melepas pengaman maupun turun tanpa pengaman karena ketika pengaman telah terlepas, pemanjat bisa terbanting dan membentur tebing apabila belayer kurang sigap dalam memperhatikan aba-aba dari pemanjat. Latihan cleaning jalur dilanjutkan di jalur artificial yakni di jalur Putus Cinta dimana teknik yang digunakan adalah teknik rigging. Berbeda dengan teknik Claimdown yang tidak memerlukan alat bantu dalam pembersihan jalur, teknik rigging memerlukan peralatan seperti prusik ,sling, tali transport, figure of eight, serta free kernmantel. Pada teknik ini setelah sampai di top, pemanjat harus mencari lubang tembus untuk dipasang prusik dimana prusik ini nantinya digunakan sebagai sebagai tambatan untuk melakukan rapelling yakni menuruni tali dengan menggunakan figure of eight dimana teknik penggunaannya sama seperti teknik belaying tetapi disini pemanjat mem-belay dirinya sendiri. Prusik dipasang di lubang tembus serapi mungkin dimana tali kernmantel dimasukkan di prusik ini, dan tali transport ditautkan pada bagian dekat ikatan tali prusik. Pemindahan beban ke pengaman rigging ini dilakukan setelah pengaman utama dilepas, begitu pula pengaman tambahan seperti skyhook. Selanjutnya pemanjat turun dengan teknik rapelling sambil mencopot satu per satu pengaman yang ada di tebing. Sampai di bawah tali kernmantel ditarik pelan-pelan dan selanjutnya tali transport ditarik untuk mencopot prusik yang terpasang di lubang tembus. Hari semakin sore yakni sekitar pukul 17.30 kami segera memberesi perlengkapan untuk bersiap kembali ke Yogya. Senja merah belum terlihat, rencananya kami ingin berfoto siluet menghadap senja, tapi kami sadar bahwa pantai menghadap ke arah selatan sehingga sunset tidak begitu terlihat. Sekitar pukul 18.00 semua perlengkapan telah terangkut di dalam tas. Kami berfoto-foto sebentar menghadap pantai untuk mengabadikan momen di Tebing Siung. Sore itu rasa letih terhapuskan ketika melihat senja yang jauh tampak berada di atas laut. Kami segera menuju tempat penitipan motor untuk segera beranjak pulang. Perjalanan dilanjutkan ke rumah tuan rumah untuk istirahat sejenak dan untuk melakukan evaluasi kegiatan hari itu. Sekitar 1 jam kami berbincang mengenai hal-hal yang telah didapat pada hari itu beserta hambatan-hambatan yang ditemui yang nantinya dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran kegiatan selanjutnya. Setelah evaluasi selesai kami segera berkemas dan melanjutkan perjalanan menuju Kota Yogyakarta. Malam itu langit mendung namun rasa letih yang ada sedikit hilang karena dalam hati ada semacam bayangan untuk kembali lagi ke Tebing Siung lagi. Siung…………wait for us !!!!!